Rabu, 26 Desember 2018

Raymond Suryadi
Mahasiswa semester 3 kelas C jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Kesan dan Pesan
Kesan saya setelah mengikuti mata kuliah Jurnalisme Dakwah di semester3 ini sangat lah baik, karena selama saya mengikuti mata kuliah ini saya mendapatkan banyak sekali ilmu tentang penulisan, entah itu penulisan berita, opini, featuer tokoh, essai ataupun penulisan yang lainnya
Tugas-Tugas yang di berikan pun awalnya saya merasa terbebani, karena tugas tentang penulisan itu baru pertama kali dilakoni oleh saya dan harus dilakukan tiap minggunya. Namun dengan berjalannya waktu saya menjadi terbiasa dengan tugas-tugas yang diberikan. lalu dampak positif setelah mengikuti mata kuliah jurnalisme Dakwah yaitu saya belajar untuk disiplin waktu, sebab setiap tugas yang di berikan selalu diberi deadline untuk dikirim ke media cetak.

Karya yang sudah dibuat Selama Perkuliahan
Opini : Hukuman Yang Membuat Jera Para Koruptor (Republika)
            Menunggu Aatau Meminjam (Kompas)
            Cepat Tanggap Hidup di Negeri Ring Of Fire (Media Indonesia)
            Ringan Tangan Untuk Palu, Sigi, dan Donggala (Media Indonesia)
            Butuh Suport Dari Masyarakat Agar sistem Berjalan Lancar (Media Indonesia)
            Mengolah Sampah Menjadi Berkah (Media Indonesia)
Surat Pembaca : Kurangnya Bangku Kuliah di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
Liputan masjid : 
2. DKM Al-Muhajirin fasilitasi Kegiatan Posyandu Bagi Masyarakat Sekitar Masjid
Essai   : Pengaruh Moderasi Islam Terhadap Perkembangan Terorisme
Resensi buku : KOMUNIKASI DAN POLISI

Selasa, 25 Desember 2018

Perbedaan Wartawan dan Jurnalis

Beberapa istilah itu sering kali dipandang keliru, bahkan seringkali salah. Wartawan dan jurnalis adalah profesi pencari berita; wartawan dari bahasa Indonesia, sedangkan jurnalis adalah serapan bahasa asing

Dalam pendefinisian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), wartawan berhubungan dengan kegiatan tulis-menulis, di antaranya mencari data (riset, liputan, verifikasi) untuk melengkapi laporannya. Wartawan dituntut objektif, berbeda dengan penulis atau kolomnis yang bisa mengemukakan subjektivitasnya.

Menurut Wisnu Prasetya Utomo, tak ada perbedaan antara wartawan, reporter, dan jurnalis. “Wartawan atau jurnalis artinya kan sama. Reporter juga artinya sama, cuma biasanya tergantung kebijakan masing-masing media. Misalnya, ada beberapa media pake istilah reporter ya buat wartawan mereka yang turun ke lapangan,” tutur peneliti media di Remotivi yang kerap disapa Wisnu ini.

Ia melanjutkan, reporter yang turun ke lapangan tersebut biasanya ditugaskan oleh media tempat mereka bekerja hanya untuk mencari dan mengirimkan data. “Nanti ada writer khusus yang nulis,” imbuh Wisnu.

Tak jauh berbeda dengan media cetak, di media massa elektronik seperti televisi, reporter adalah julukan bagi orang yang menulis berita. Begitulah pernyataan Diaz Bela yang kini berprofesi sebagai reporter di salah satu televisi swasta nasional. “Bagi yang sama-sama mencari berita tapi lebih fokus di pengambilan gambar, julukannya campers (camera person, -red) atau video journalist atau biasa disingkat VJ,” lanjutnya. Soal istilah wartawan atau jurnalis, menurut Diaz, sapaan akrabnya, keduanya memiliki definisi yang sama, yaitu pewarta berita.

Apapun istilah yang digunakan, baik jurnalis, wartawan, ataupun reporter, itu hanyalah istilah yang tak perlu dipusingkan. Seperti yang diungkap Wisnu sebelumnya, semua tergantung pada kebijakan atau standar yang diterapkan oleh masing-masing media. Kita hanya boleh pusing ketika mereka tak mengabarkan berita sesuai fakta dan tak melayani kepentingan umum. Mengapa kepentingan umum? Karena di sanalah loyalitas pertama jurnalisme berada, yaitu kepada warga, masyarakat umum, dan bukan pada kepentingan segelintir orang saja.