Pesan Dakwah Dalam Film Soekarno Tentang Ulil
Amri
Berbicara
mengenai sosok Soekarno dalam aktivitas pergerakan kemerdekaan Republik di
sebuah medium yang bernama layar lebar bukanlah perkara gampang. Apalagi dalam
sebuah film yang berdurasi kurang lebih 160 menit. Belum lagi mengingat
penuturan sejarah yang seringkali berbenturan dengan subjektivitas oleh siapa
yang berbicara dengan apa yang dibicarakan. Cerita film yang digarap oleh
Hanung Bramantyo dan Ben Sihombing jelas terukur. Hal ini terlihat jelas dari
pengambaran sosok Soekarno lengkap dengan kejadian-kejadian yang dianggap
penting dalam proses kemerdekaan Indonesia. Itulah sebabnya cerita film ini
lebih menitikberatkan pada sisi manusiawi Soekarno sampai pada proses pembacaan
naskah proklamasi saja.
Film
karya Hanung Bramantyo dengan judul Soekarno mengisahkan dengan ringkas dan
cerdas fase-fase kisah kehidupan Sukarno Sang Proklamator. Soekarno kecil
memiliki nama Kusno Sosrodiharjo, namun karena selalu sakit-sakitan maka sang
ayah yang berlatar belakang Muslim dan Kejawen memutuskan untuk mengganti
namanya melalui tradisi selamatan. Kemudian Kusno diganti namanya menjadi
Soekarno.
Setiap
film pasti mengandung pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh Sutradara kepada
penikmatnya. Pesan-pesan tersebut biasanya menggambarkan kondisi dan situasi kehidupan.
Hal ini terkait dengan film sebagai miniatur sebuah adegan dalam kehidupan
nyata. Oleh karena itu, penulis akan memaparkan narasi yang berkaitan dengan
ulil amri pada tokoh Soekarno. Scene Ulil Amri dalam film Soekarno sebagai
berikut:
Scene 1 :
Terdengar
sebuah lagu klasik, terlihat orang sedang tidur. Kemudian datang polisi Blanda
dan mengetok-ngetok pintu rumah. Mendengar itu orangorang di dalam rumah panik
dan menyembunyikan semua buku-buku maupun berkas-berkas penting.
Soejoedi : “Ada apa ini? Apa yang anda
inginkan?”
Polisi : “Apa kabar tuan Soejoedi?”
Soejoedi : “Anda tidak bisa menggeledah rumah
saya begitu saja, tanpa surat perintah resmi.”
Polisi : “Di mana Soekarno?”
Soejoedi : “Saya tidak tahu.”
Polisi : “Bohong! (sambil menggertak) Jika anda
menyulitkan, akan saya tahan, tuan Soejoedi. Dimana Soekarno?”
Soekarno : “Saya Soekarno?” (Sambil keluar dari
kamar)
Polisi : “Ir. Soekarno, atas nama Sri Ratu anda
kami tangkap. Bawa dia. (menyuruh anak buahnya)
Kemudian polisi menangkap dan membawa Soekarno
ke penjara
Scene 13 (Di Penjara)
Setelah
ditangkap oleh polisi Belanda, kemudian Soekarno dibawa ke penjara Banceuy di
Bandung.
Polisi : “Soekarno, masuk!” (Sambil memberikan
baju tahanan)
Soekarno : “Apakah ada pakaian yang layak buat
saya? Saya bukan pencuri.”
Polisi : “Pemberontak komunis seperti anda sama
saja seperti pencuri, tuan.”
Soekarno : “Saya bukan komunis.”
Polisi : “Sama saja tettap maling.”
Scene 26 (Di jalan pasar)
Soekarno
sedang naik sepeda, ia lewat dikeramaian pasar. Orang-orang yang melihatnya
berteriak memanggil nama Soekarno.
Orang-orang : “Soekarno.” (Sambil melambaikan
tangan)
Soekarno : “Selamat pagi.” (Sambil melambaikan
tangan)
Pesan
dakwah dalam Film Soekarno tentang Ulil Amri Yaitu :
1. 1. Jujur
Islam
berkeyakinan bahwa dunia tidak akan menjadi aman dan makmur apabila kejujuran
tidak ditegakkan dalam hubungan-hubungan kemanusiaan di segala bidang. Dunia
luar baru akan percaya akan kejujuran pemimpin Islam apabila mereka mampu
menegakkan kejujuran pada intern golonganya. Dalam film Soekarno ini
digambarkan dalam beberapa scene, yaitu:
Scene 1
Pada
scene ini menggambarkan Soekarno yang sedang keluar dari tempat persembunyianya
ketika dicari oleh Polisi Belanda. Soekarno menyerahkan diri kepada Polisi
Belanda walaupun pada awalnya teman-teman yang ada di rumah tuan Soejoedi tidak
mengatakan keberadaan Soekarno.
Scene 13
Pada
scene ini menggambarkan Soekarno baru sampai di penjara. Soekarno diberi baju
tahanan oleh polisi yang berjaga. Namun Soekarno menolaknya karena merasa bahwa
ia bukanlah seorang pencuri ataupun pemberontak. Namun karena kekuasaan dari
polisi penjaga itu, akhirnya Soekarno dan teman-temanya memakai baju tahanan
itu.
Terlihat
Soekarno dibawa masuk kedalam penjara, Soekarno meminta agar dirinya tidak
disamakan dengan seorang pencuri. Soekarno inginkan keadilah terhadap dirinya
dan teman-temanya.
1. 2. Berwibawa dan Disegani Semua Golongan
Kepatuhan
yang ditunjukan oleh umat kepada seorang pemimpin adalah karena kewibawaanya
dalam memimpin umat, bukan kepatuhan karena adanya kekuatan memaksa dari pihak
penguasa. Dalam film Soekarno ini digambarkan dalam beberapa scene, yaitu:
Scene 26
Pada
scene ini menggambarkan sosok Soekarno yang berwibawa dan disegani oleh
orang-orang. Terlihat ketika ia bersepede melewati jalan di tengah pasar,
banyak orang-orang menyapanya dan mengacungkan tangganya.
Terlihat
Soekarno sedang naik sepeda melewati jalan pasar. Orangorang yang melihatnya
mengangkat tangan dan menteriakan nama Soekarno. Hal itu dikarenakan kewibawaan
yang ada pada sosok Soekarno.
Pesan
dakwah dalam film Soekarno tentang ulil amri adalah pesan dakwah yang berkaitan
dengan akhlaq. Bahwasanya akhlaq seorang pemimpin mengacu pada karakter atau
sifat seperti adanya sifat Adil dan jujur, Bijaksana dalam menghadapi masalah,
Berpandangan luas serta tidak fanatik, Berjiwa integrasi, Wibawa dan disegani
oleh semua golongan, Mementingkan kepentingan umat daripada kepentingan
golongan. Namun dalam film Soekarno masih ada salah satu sifat yang tidak
terpenuhi seperti tidak fanatik. Tokoh Soekarno masih terdapat sifat fanatik
dalam adeganya.
Raymond Suryadi
1174020133
KPI 7 C



